Saturday, January 12, 2008

Akhi, Aku Mencintaimu……

Tiada terasa detik-detik terus bergulir, menit terus berjalan menggapai jam, dan jam pun berubah jadi hari. Hari-hari terus berlalu menelurkan selaksa kenangan indah di hati ini. Salah satu kenangan yang masih tertancap kuat dalam memori adalah kenangan halaqah bersama temen-temen rohis.

Kebersamaan yang ingin rasanya terulang. Canda, tawa, suka maupun duka menghiasi langkah kami dalam mencari Ilmu Allah. Dari yang tadinya sekitar 20 orang lebih—karena satu dan lain hal—akhirnya kita hanya berlima. Kita berpencar di 5 Perguruan Tinggi yang berbeda, yaitu aku sendiri (ITB), Imam (STAN), Faiz (UNS), Luthfi (UNSUD) dan Arif (UI).

Salah manfaat yang kudapat dari halaqah tersebut adalah rasa saling mencintai, saling peduli, saling mengingatkan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Ketika aku lagi sedih, mereka menghiburku. Ketika lagi males, mereka membangkitkan semangatku. Dan ketika aku sedih, mereka menghiburku. begitu juga sebaliknya.

Alhamdulillah, sampai sekarang kita saling kontak. Apalagi pas lagi pulang kampung (liburan), kita saling berkunjung. Tiap lebaran kita berlima bersilaturrahim ke rumah murrobi. Kebetulan Murobbiku dapet istri orang kebumen, jadi tiap lebaran Insya Allah pulang ke kebumen.

Tadinya murobbiku kerja di kantor pajak cabang kebumen. Beliau lulusan STAN. Namun, sekarang beliau kerja di Bogor sambil S2. Terakhir yang kutahu beliau tinggal di Taman Pagelaran Blok DD no 13 Ciomas Bogor. Makanya sehabis “TENs 2007”, aku ga langsung pulang ke bandung tapi main dulu ke rumah beliau. Bahagia sekali bisa berjumpa dengan beliau. Salah hal yang beliau tekankan adalah pentingnya rasa saling mencintai di antara kita sesama muslim.

Memang Islam adalah agama yang sangat sempurna. Islam bukan hanya ritual atau ibadah tapi lebih dari itu. Islam adalah kehidupan, segala aspek dalam hidup ini ada dalam ajaran islam. Di antaranya saling mencintai sesama muslim. Di bawah ini aku kutip beberapa dalil yang menunjukkan betapa pentingnya rasa saling mencintai antara sesama saudara (muslim).

﴿ وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴾

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Mu- hajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr : 9)

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسْ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ [رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik "Tidak beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai milik saudaranya (sesama muslim) seperti ia mencintai miliknya sendiri". (HR. Bukhori dan Muslim)

Abu 'Amr bin Shalah berkata : “ Perbuatan semacam ini terkadang dianggap sulit sehingga tidak mungkin dilakukan seseorang. Padahal tidak demikian, karena yang dimaksudkan ialah bahwa seseorang imannya tidak sempurna sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesama muslim seperti mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri. Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan melakukan sesuatu hal yang baik bagi diriya, misalnya tidak berdesak-desakkan di tempat ramai atau tidak mau mengurangi kenikmatan yang menjadi milik orang lain. Hal-hal semacam itu sebenarnya gampang dilakukan oleh orang yang berhati baik, tetapi sulit bagi orang yang jahat.” Diriwayatkan bahwa Fudhail bin 'Iyadz, berkata kepada Sufyan bin 'Uyainah : "Jika anda menginginkan orang lain menjadi baik seperti anda, mengapa anda tidak menasihati orang itu karena Allah. Bagaimana lagi kalau anda menginginkan orang itu di bawah anda?" (tentunya anda tidak akan menasihatinya).

Sebagian ulama berpendapat : "Hadits ini mengandung makna bahwa seorang mukmin dengan mukmin lainnya laksana satu tubuh. Oleh karena itu, ia harus mencintai saudaranya sendiri sebagai tanda bahwa dua orang itu menyatu". Seperti tersebut dalam hadits yang lain, yaitu : "Orang-orang mukmin laksana satu tubuh, bila satu dari anggotanya sakit, maka seluruh tubuh turut mengeluh kesakitan dengan merasa demam dan tidak bisa tidur malam hari".

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Saling memberi hadiahlah kamu sekalian, agar kalian saling mencintai." (HR. Bukhori)

Hadis riwayat Abu Hurairah, ia berkata, dari Nabi SAW, beliau bersabda : Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu : Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), seseorang yang hatinya bergantung kepada mesjid (selalu melakukan salat jamaah di dalamnya), dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk berzina), tapi ia mengatakan : Aku takut kepada Allah, seseorang yang memberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kanannya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kirinya dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata dari kedua matanya. (HR. Muslim)

Nur Ahmadi -- Etoser 06 BDG

13206125

Program Studi Teknik Elektro

Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI)

Institut Teknologi Bandung

Guru, Sang Pahlawan yang Terasingkan

Sekilas kita membaca judul di atas, mungkin akan terbesit berbagai pertanyaan. Di antaranya adalah pertanyaan “Apa yang dimaksud dengan pernyataan tersebut?”. Pertanyaan tersebut akan terjawab jika kita menelisik peran dan kondisi dari guru belakangan ini.

Guru merupakan sosok yang sangat penting dan tidak tergantikan perannya. Ia bagaikan “mesin pencetak” orang-orang cerdas, orang-orang yang diharapkan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dan beradab. Guru layaknya oase di tengah padang gurun yang sangat panas. Ia memberikan “air” ilmu sebagai pelepas dahaga para pencari ilmu. Ia merupakan telaga ilmu yang tak akan pernah habis ilmunya meski kita mengambilnya setiap hari. Kecintaan pada anak didiknya begitu suci, sesuci dan sebening embun di pagi hari. Ia tidak pernah mengeluh dan merasa letih dalam mengajar. Ia tidak mengharap apapun kecuali satu, yaitu ia berharap suatu saat nanti anak didiknya menjadi orang yang bahagia dan sukses.

Guru adalah “Sang Pahlawan Sejati” meski ia tidak memiliki tanda jasa, meski ia tidak pernah tercantum dalam daftar para pahlawan nasional. Namun, lewat didikannya ia telah mencetak para pahlawan nasional, lewat sentuhan kasih sayangnya ia telah mencetak orang ternama di negeri ini. Cahaya keikhlasannya seterang matahari ketika siang dan sebenderang rembulan di kala malam. Ia tidak pernah mengharap balasan berupa materi duniawi apalagi hanya sekedar pujian yang melenakan. Cukuplah sang Ilahi yang akan membalasnya nanti karena Ia lah sebaik-baik pemberi balasan.

Akan tetapi, bagaimana kondisi Sang Pahlawan tersebut belakangan ini? Kondisinya secara tidak langsung dapat dijawab dengan melihat realita yang ada di SD, SMP, SMA. Ketika pertanyaan “Siapa yang bercita-cita menjadi guru?”, hampir tidak ada yang mengacungkan jari kecuali hanya segelintir orang. Setelah ditelaah dan ditanyakan alasannya, didapatlah suatu pernyataan bahwa menjadi guru tidak akan sejahtera. Dengan menjadi guru, kita hidup serba kekurangan. Perjuangan dan jerih payah kita sebagai guru tidak sebanding dengan apa yang kita dapat.

Itulah kondisi dari para guru belakangan ini, meski pernyataan di atas tidak sepenuhnya benar. Memang, pemerintah kita kurang memberikan perhatiannya pada pendidikan terutama kurangnya apresiasi pada guru. Gaji yang ia dapat dari mengajar tidak sebanding dengan kerja kerasnya. Tidak heran jika banyak guru yang melakukan kerja sambilan untuk menghidupi keluarganya. Hal ini berimplikasi pada kurangnya konsentrasi guru dalam mengajar. Ia tidak akan sempat untuk melakukan inovasi dalam mengajar, tidak mempunyai cukup waktu untuk mempersiapkan apa yang akan diajarkannya dengan sebaik-baiknya. Hal ini dapat terjadi karena pikiran dan konsentrasinya terbagi antara mengajar dan mencari pendapatan lain di luar mengajar. Akhirnya output yang didapat yaitu kualitas anak didik yang kurang terjamin.

Guru yang seharusnya mendapat perhatian dan apresiasi yang tinggi dari pemerintah, kini hanya menjadi layaknya lentera yang cahayanya meredup. Tidak ada yang memberikan perawatan kepadanya sehingga lama-kelamaan cahayanya semakin meredup dan hilang. Walaupun pada kenyataannya, tidak ada yang bisa memudarkan cahaya ilmu dari seorang guru. Pernyataan sebelumnya hanya sebagai perumpamaan kondisi yang sangat memprihatinkan dari seorang guru.

Lalu, bagaimana solusinya? Yang sebenarnya berhak dan mempunyai kapasitas menjawab pertanyaan ini adalah para elit yang duduk di bangku pemerintahan. Merekalah yang berwenang mengeluarkan kebijakan tentang pendidikan yang di dalamnya juga terdapat nasib para pejuang pendidikan (baca : guru). Kita sebagai masyarakat biasa, hanya berharap dan memberikan saran bahwa jika ingin menjadikan negara ini maju, kita harus memajukan dulu tingkat pendidikannya. Untuk memajukan tingkat pedidikan, selain membenahi seluruh infrasuktur dan sarana lain yang menunjang, kita juga harus memberikan hak kesejahteraan bagi para guru. Dengan memberikan fasilitas dan gaji yang sesuai dengan pengabdiannya, guru akan merasa nyaman dalam mengajar. Ia akan berkonsentrasi penuh dalam mengajar dan tidak akan dipusingkan dengan hal-hal yang lain. Ia akan mempersiapkan materi yang akan diajarkan dengan sebaik-baiknya. Ia juga akan melakukan inovasi dan mengasah kreativitasnya dalam mengajar untuk menghasilkan anak didik yang unggul dan berkualitas.

Di samping itu, jika hak-hak guru diperhatikan dan direalisasikan oleh pemerintah, maka akan banyak orang yang berminat menjadi guru. Orang-orang yang pandai akan lebih memilih menjadi guru dari pada bekerja di perusahaan swasta jika yang ia dapatkan tidak jauh berbeda. Hal ini sangat penting karena apabila yang menjadi guru adalah orang-orang yang cerdas, besar kemungkinan anak didiknya juga akan meniru gurunya menjadi orang yang cerdas. Meskipun hal ini tidak mutlak, setidaknya hal ini lebih baik dari pada yang menjadi guru adalah orang-orang yang biasa saja.

Ada pepatah yang mengatakan “Negara yang besar adalah yang menghargai pahlawannya”. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan yang terasingkan dan tenggelam dalam euforia pasca kemerdekaan , era globalisasi, dan pengaruh liberalism-kapitalisme yang hanya mementingkan orang-orang elit yang punya banyak modal. Sudahkah negara ini menjadi negara yang besar? Marilah kita berintrospeksi diri apakah kita sudah menghargai jasa para guru. Biarkan waktu yang akan menjawabnya.

Bandung, 20 November 2007

Nur Ahmadi - Etoser 06 BDG

13206125

Program Studi Teknik Elektro

Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI)

Institut Teknologi Bandung

Thursday, January 10, 2008

HAAA....TULISAN PERTAMA!!!!

CINTA SUNYI

Kawan, ternyata seperti ini rasanya patah hati. Hatiku panas, pikiranku tak jernih, badanku lemas, letih, lesu. Pokoknya, segala hal negative bermuncuan dalam diriku.Aku selalu bertanya-tanya mengapa ini terjadi padaku. Yah, itulah yang dirasakan oleh seseorang yang setengah waras.

Tapi, yang kurasakan ini bukan patah hati karena putus cinta seperti orang kebanyakan. Bukan patah hati karena ditolak oleh Si Pujaan Hati. Bukan pula patah hati karena dikhianati, bukan sama sekali. Sampai saat ini, rekorku belum pernah ditolak tetap tak terpatahkan. Sebabnya, aku belum pernah sekalipun punya sesuatu yang namanya pacar.

Cinta itu runyam, memusingkan, dan indah. Cintaku bukan seperti cinta orang kebanyakan yang dengan terang-terangan diumbar di depan umum. Cintaku bukan cinta yang membutakan hingga menjadikan seorang pria kampung menjadi terkenal seantero Nusantara karena ingin bunuh diri setelah cintanya ditolak Sang Kekasih. Cintaku adalah cinta sunyi, teselubung, dan sembunyi-sembunyi.

Indah sekai cinta sunyiku itu. Memacu jiwa untuk menjadi bijak bestari. Mendorong pikiran sejernih dan setajam Enstein. Menguatkan fisik untuk terus berbuat baik. Cinta yang penuh inspirasi, tanpa ketergesa-gesaaan, dan tidak membosankan.

Aku menikmati setiap inci kejadian dengan cinta sunyiku itu, walaupun yang terjadi hanya kejadian-kejadian kecil saja. Saat kebetulan beradu-pandang dan bersama-sama segera memalingkan wajah dengan kikuk, saat hanya berpapasan di jalan dan tersenyum, bahkan saat hanya bisa menatapnya dan mengagumi keanggunannya dari jauh. Ah, setiap bunga di hatiku bermekaran. Indah sekali!

Kawan, harap catat. Yang selama ini aku alami dengan cinta sunyiku itu hanya kejadian-kejadian kecil yang bahaan itupun jarang terjadi. Tidak ada kejadian besar. Aku cukup bersyukur dengan cinta seperti ini.Tak ada yang tahu, bahkan cinta sunyiku pun tak tahu.

Aku tak ingin menjalankan cinta hampa yang hanya memuaskan nafsu semata. Sungguh membosankan dan merepotkan. Aku hanya ingin cinta sunyiku tersiarkan oleh suatu ikatan suci, yang menjadikan cinta itu semakin indah.

Tapi apa yang terjadi padaku saat ini, aku patah hati. Ternyata cinta sunyiku akan disunting orang lain seagai pendamping hidupnya. Cinta sunyiku akan selamanya sunyi dan selamanya tak aka nada yang tahu. Cinta sunyiku hanya terukir di sebuah prasati yang berseamayan di dalam hatiku.

Walaupun cinta sunyiku tidak tersiarkan, aku tetap merasa senang. Walaupun cinta sunyiku tidak kumliki, aku tetap menjadikannya inspirasi dalam setiap langkahku, kejutan yang memperindah kehidupanku, dan perasaan yang memperkaya pengalaman batinku.

Paling tidak aku tahu ternyata cinta sunyiku itu adalah orang yang taat pada ajaran agama. Jadi, kemampuanku untuk memilih orang yang baik tidak diragukan lagi. Aku tidak peduli jika orang lain mencemohku sebagai pengecut yang tidak berani menyatakan cinta. Kawan, bukan itu yang aku cari. Mengungkapkan cinta di saat aku belum siap merepresentasikan cinta adalah suatu kebodohan.

Biarlah cintaku tetap sunyi untuk sementara waktu. Dengan berbagai peristiwa kecil nan indah di dalamnya. Dan suatu saat nanti, biarlah Sang Waktu yang membawaku ke momen saat aku menyiarkan cintaku ke seantero jagat raya.

Pelajaran moral: Ternyata akhwat tuh gak sabaran ya…???!!!

by
Wahyu "Yuyu" Susanto (etoser Bandung 2004)