Tiada terasa detik-detik terus bergulir, menit terus berjalan menggapai jam, dan jam pun berubah jadi hari. Hari-hari terus berlalu menelurkan selaksa kenangan indah di hati ini. Salah satu kenangan yang masih tertancap kuat dalam memori adalah kenangan halaqah bersama temen-temen rohis.
Kebersamaan yang ingin rasanya terulang. Canda, tawa, suka maupun duka menghiasi langkah kami dalam mencari Ilmu Allah. Dari yang tadinya sekitar 20 orang lebih—karena satu dan lain hal—akhirnya kita hanya berlima. Kita berpencar di 5 Perguruan Tinggi yang berbeda, yaitu aku sendiri (ITB), Imam (STAN), Faiz (UNS), Luthfi (UNSUD) dan Arif (UI).
Salah manfaat yang kudapat dari halaqah tersebut adalah rasa saling mencintai, saling peduli, saling mengingatkan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Ketika aku lagi sedih, mereka menghiburku. Ketika lagi males, mereka membangkitkan semangatku. Dan ketika aku sedih, mereka menghiburku. begitu juga sebaliknya.
Alhamdulillah, sampai sekarang kita saling kontak. Apalagi pas lagi pulang kampung (liburan), kita saling berkunjung. Tiap lebaran kita berlima bersilaturrahim ke rumah murrobi. Kebetulan Murobbiku dapet istri orang kebumen, jadi tiap lebaran Insya Allah pulang ke kebumen.
Tadinya murobbiku kerja di kantor pajak cabang kebumen. Beliau lulusan STAN. Namun, sekarang beliau kerja di
Memang Islam adalah agama yang sangat sempurna. Islam bukan hanya ritual atau ibadah tapi lebih dari itu. Islam adalah kehidupan, segala aspek dalam hidup ini ada dalam ajaran islam. Di antaranya saling mencintai sesama muslim. Di bawah ini aku kutip beberapa dalil yang menunjukkan betapa pentingnya rasa saling mencintai antara sesama saudara (muslim).
﴿ وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴾
“Dan orang-orang yang telah menempati
عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسْ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ [رواه البخاري ومسلم]
Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik "Tidak beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai milik saudaranya (sesama muslim) seperti ia mencintai miliknya sendiri". (HR. Bukhori dan Muslim)
Abu 'Amr bin Shalah berkata : “ Perbuatan semacam ini terkadang dianggap sulit sehingga tidak mungkin dilakukan seseorang. Padahal tidak demikian, karena yang dimaksudkan ialah bahwa seseorang imannya tidak sempurna sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesama muslim seperti mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri. Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan melakukan sesuatu hal yang baik bagi diriya, misalnya tidak berdesak-desakkan di tempat ramai atau tidak mau mengurangi kenikmatan yang menjadi milik orang lain. Hal-hal semacam itu sebenarnya gampang dilakukan oleh orang yang berhati baik, tetapi sulit bagi orang yang jahat.” Diriwayatkan bahwa Fudhail bin 'Iyadz, berkata kepada Sufyan bin 'Uyainah : "Jika anda menginginkan orang lain menjadi baik seperti anda, mengapa anda tidak menasihati orang itu karena Allah. Bagaimana lagi kalau anda menginginkan orang itu di bawah anda?" (tentunya anda tidak akan menasihatinya).
Sebagian ulama berpendapat : "Hadits ini mengandung makna bahwa seorang mukmin dengan mukmin lainnya laksana satu tubuh. Oleh karena itu, ia harus mencintai saudaranya sendiri sebagai tanda bahwa dua orang itu menyatu". Seperti tersebut dalam hadits yang lain, yaitu : "Orang-orang mukmin laksana satu tubuh, bila satu dari anggotanya sakit, maka seluruh tubuh turut mengeluh kesakitan dengan merasa demam dan tidak bisa tidur malam hari".
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Saling memberi hadiahlah kamu sekalian, agar kalian saling mencintai." (HR. Bukhori)
Hadis riwayat Abu Hurairah, ia berkata, dari Nabi SAW, beliau bersabda : Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu : Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), seseorang yang hatinya bergantung kepada mesjid (selalu melakukan salat jamaah di dalamnya), dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk berzina), tapi ia mengatakan : Aku takut kepada Allah, seseorang yang memberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kanannya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kirinya dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata dari kedua matanya. (HR. Muslim)
Nur Ahmadi -- Etoser 06 BDG
13206125
Program Studi Teknik Elektro
Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI)
No comments:
Post a Comment